Nash equilibrium is a situation where each player chooses its optimal strategy, for dealing with strategies that have been done by other players.
But sometimes there is a cheating and did not follow the agreement so that the outcomes tend to be inferior even worse than the possibilities.
Once upon a time we walk into Glodok intend to look around and if there is a match going to buy a laptop. After much haggling the seller would not sell below the price even though we bought a laptop for more than two pieces. Finally the guard booth to take us to the manager to speak four mata.Si manager finally put a price below the standard but the price written on the receipt is higher than the agreed price. The manager asked for the secret of this and if anyone asks, the answer is as indicated in the receipts.

Prisoner dilemma illustrates that the agreement of two economic actors is very difficult to continuously even though the agreement is beneficial to both the perpetrators. This occurs because of an agreement means that economic actors commit to choosing a particular strategy in a game. Thus, although the game has not yet begun, each economic actor to understand the strategy of his opponent. Each economic actor assumes that his opponent’s strategy as a key factor. As a result, each potential economic actors to choose a different strategy than the strategy agreement, if the violation is more profitable than follow the consensus strategy.
To prevent cheating when there is repetition in the prisoners dilemma scenario, the best strategy that can be achieved is a tit-for-tat.
In order for the strategy tit-for-tat can function properly, several conditions must be met. First, it needs a stable set of players. If players are often switching back and forth, growing a small possibility of cooperative behavior. Second, the number of players have little (if not, it is very difficult to monitor what is being done by each player). Third, it is assumed that any company can rapidly detect (and are willing and able to respond quickly) cheating by other companies. Cheating is not detected in a long time will encourage more cheating. Fourth, demand and cost conditions should be relatively stable (it is always changing, it is very difficult to define where the cooperative behavior and what is not). Fifth, we must assume that the game continues again and again without limit, or in a very large number of repetitions and uncertain.

In everyday life, especially in the business world, the rules of play tit-for-tat is able to minimize cheating. It can be described as follows: Do what to you by your opponent. That is, you start by cooperating and will continue to work together during your opponent also cooperated. If he betrayed, then you also betray him again. If later he was cooperating, then you also work together. This strategy is adequate reply to each other in order to prevent non-cooperative behavior, but forgiving enough to allow the development pattern of cooperation is beneficial.
However, many phenomena around us are still cheating occurred. This is due to inconsistent implementation of this strategy is applied, where the punishment is not carried out properly. Do unto Others as you would have Them do onto you.

Source: “Managerial Economics” by Dominick Salvatore

Advertisements
Posted by: Ikhsan Madjido | April 10, 2010

Sistem Kepercayaan Masyarakat Zaman Pra-Sejarah

Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia, maka masyarakat Indonesia sebelum adanya pengaruh Hindu-Buddha juga telah mempercayai adanya kekuatan di luar diri mereka. Hal ini juga tidak terlepas dari kehidupan mereka.
Mereka hidup dari berladang dan bersawah. Dalam mengolah/mengerjakan ladang atau terutama sawah harus ada kerjasama diantara mereka, seperti gotong royong membuat parit, membuat pintu air, bahkan mendirikan rumah. Kehidupan ini hanya dapat berjalan dalam masyarakat yang sudah teratur, yang telah mengetahui hak dan kewajibannya. Ini berarti telah ada organisasi dan yang menjadi pusat organisasi ialah desa dan ada aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama. Kepentingan desa berarti kepentingan bersama. Dalam suasana untuk saling memahami, saling menghargai, tolong menolong dan bertanggung jawab, maka muncullah faktor baru, yakni pemimpin (ketua desa/datuk). Yang memegang pimpinan adalah ketua adat, yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain. Ia harus melindungi anggotanya dari serangan kelompok lain, atau ancaman binatang buas sehingga tercipta kemakmuran, kesejahteraan dan ketentraman. Pemimpin bekerja untuk kepentingan seluruh desa, maka masyarakat berhutang budi kepada pemimpinnya. Sifat kerja sama antara rakyat dan pemimpinnya membentuk persatuan yang kuat, memunculkan kepercayaan, yakni memuja roh nenek moyang, memuja roh jahat dan roh baik bahkan mereka percaya bahwa tiap-tiap benda memiliki roh. Dengan demikian muncullah Animisme, Dinamisme, dan Totemisme.

a. Animisme
Setiap benda baik hidup maupun mati mempunyai roh atau jiwa. Roh itu mempunyai kekuatan gaib yang disebut mana. Roh atau jiwa itu pada manusia disebut nyawa. Nyawa itu dapat berpindah-pindah dan mempunyai kekuatan gaib. Oleh karena itu, nyawa dapat hidup di luar badan manusia. Nyawa dapat meninggalkan badan manusia pada waktu tidur dan dapat berjalan kemana-mana (itulah merupakan mimpi). Akan tetapi apabila manusia itu mati, maka roh tersebut meninggalkan badan untuk selama-lamanya.
Roh yang meninggalkan badan manusia untuk selama-lamanya itu disebut arwah. Menurut kepercayaan, arwah tersebut hidup terus di negeri arwah serupa dengan hidup manusia. Mereka dianggap pula dapat berdiam di dalam kubur, sehingga mereka ditakuti. Bagi arwah orang-orang ter- kemuka seperti kepala suku, kyai, pendeta, dukun, dan sebagainya itu di- anggap suci. Oleh karena itu, mereka dihormati; demikian pula nenek moyang kita. Dengan demikian timbullah kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang yang disebut Animisme.
Karena arwah itu tinggal di dunia arwah (kahyangan) yang letaknya di atas gunung, maka tempat pemujaan arwah pada zaman Megalitikum, juga dibangun di atas gunung/bukit. Demikian pula pada zaman pengaruh Hindu/Buddha, candi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang atau dewa dibangun diatas gunung/bukit. Sebab menurut kepercayaan Hindu bahwa tempat yang tinggi adalah tempat bersemayamnya para dewa, sehingga gambaran gunung di Indonesia (Jawa khususnya) merupakan gambaran gunung Mahameru di India. Pengaruh ini masih berlanjut juga pada masa kerajaan Islam, di mana para raja jika meninggal di makamkan di tempat-tempat yang tinggi, seperti raja-raja Yogyakarta di Imogiri dan raja-raja Surakarta di Mengadek. Hubungannya dengan arwah tersebut tidak diputuskan melainkan justru dipelihara sebaik-baiknya dengan mengadakan upacara-upacara selamatan tertentu. Oleh karena itu, agar hubungannya dengan arwah nenek moyang terpelihara dengan baik, maka dibuatlah patung-patung nenek moyang untuk pemujaan.

b. Dinamisme
Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris) mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda suci itu mem- punyai sifat yang luar biasa (karena kebaikan atau keburukannya) sehingga dapat memancarkan pengaruh baik atau buruk kepada manusia dan dunia sekitarnya. Dengan demikian, di dalam masyarakat terdapat orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda, dan sebagainya yang dianggap mem- punyai pengaruh baik dan buruk dan ada pula yang tidak.
Benda-benda yang berisi mana disebut fetisyen yang berarti benda sihir. Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka, lambang kerajaan, tombak, keris, gamelan, dan sebagainya akan membawa pengaruh baik bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit, me- nolak malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat tidak terdapat perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk ter- gantung kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan. Perbedaannya, jika jimat pada umumnya dipergunakan/dipakai di badan dan bentuknya lebih kecil dari pada fetisyen. Contohnya, fetisyen panji Kiai Tunggul Wulung dan Tobak Kiai Plered dari Keraton Yogyakarta.

c. Totemisme
Adanya anggapan bahwa binatang-binatang juga mempunyai roh, itu disebabkan di antara binatang-binatang itu ada yang lebih kuat dari manusia, misalnya gajah , harimau, buaya, dan ada pula yang larinya lebih cepat dari manusia. Pendeknya, banyak yang mempunyai kelebihan-kelebihan di- bandingkan dengan manusia sehingga ada perasaan takut atau juga meng- hargai binatang-binatang tersebut. Sebaliknya, banyak pula binatang yang bermanfaat bagi manusia, seperti kerbau, sapi, kambing, dan sebagainya. Dengan demikian, hubungan antara manusia dengan hewan dapat berupa hubungan permusuhan berdasarkan takut-menakuti dan ada pula hubungan baik, hubungan persahabatan bahkan hubungan keturunan (totemisme). Itulah sebabnya pada bangsa-bangsa di dunia terdapat kebiasaan menghormati binatang-binatang tertentu untuk dipuja dan dianggapnya seketurunan.

Berkaitan dengan macam-macam kepercayaan tersebut di atas, bagai- manakah sistem kepercayaan di masyarakat sekitar Anda? Masih adakah kepercayaan seperti tersebut? Berikan ulasan Anda!

Posted by: Ikhsan Madjido | April 10, 2010

Keuangan

1. Laporan Keuangan 2008 / 2009

Posted by: Ikhsan Madjido | April 10, 2010

Kesiswaan

1. Data Siswa

Posted by: Ikhsan Madjido | April 10, 2010

Data Guru dan Staf

1. Data Guru

Posted by: Ikhsan Madjido | April 7, 2010

Resonansi Hati

Gitar mempunyai tabung resonansi yang lubangnya mengharap ke arah deretan sinarnya. Jika senar tersebut digetarkan dengan cara dipetik, maka udara di dalam ruang resonansinya akan ikut bergetar. Inilah yang menyebabkan suara senar gitar itu terdengar keras dan merdu. Bisa dipastikan tidak akan terjadi resonansi apabila lubang gitar tersebut ditutup dengan kain. Suara gitarpun terdengar sangat pelan dan tidak merdu.
Hati atau jantung manusia bagaikan sebuah tabung resonansi gitar. Setiap kita berbuat sesuatu, baik itu pada taraf berpikir atau berbuat, selalu terjadi getaran di hati kita. Getaran tersebut bisa kasar, bisa juga lembut, tergantung bagaimana getaran itu muncul. Ketika kita gembira, hati kita bergetar. Ketika marah, hati kita juga bergetar.
Secara umum, ada dua sumber getaran, yaitu hawa nafsu dan getaran ilahiah. Hawa nafsu adalah keinginan untuk melampiaskan segala kebutuhan diri. . Getarannya cenderung kasar dan bergejolak-gejolak tidak beraturan. Dalam ilmu fisika, getaran semacam ini disebut memilki frekuensi rendah, dengan amplitudo yang besar. Kemarahan, kebencian, dendam, iri, dengki, berbohong, menipu, kesombongan, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang termasuk dalam getaran hawa nafsu. Sedangkan getaran ilahiah adalah dorongan untuk mencapai tingkatan kualitas yang lebih tinggi. Getarannya cenderung lembut dan halus, dengan frekuensi getaran yang sangat tinggi dan teratur. Membaca Al Qur’an, berzikir, sifat sabar, ikhlas, dan kepasrahan diri dalam beragama adalah termasuk dalam getaran ilahiah ini.

Posted by: Ikhsan Madjido | April 6, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories